WEALTH & THRONE DESTROY FAITH & PIETY
HARTA & TAHTA MEROBOHKAN IMAN &
TAKWA
Harta
adalah kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dan diupayakan agar
dapat memberi kesejahteraan dan kebahagian, oleh karenanya banyak manusia
menginginkan hidup dengan harta yang berlimpah, lalu mereka mecarinya dari pagi
sampai larut malam tanpa mengenal lelah, demi mendapatkan harta sesui yang
diinginkan. Namun setelah memperoleh harta sesuai
yang diharapkan, tidak lantas membuat mereka merasa cukup, namun terus
berupaya mencari dan mendapatkan harta yang lebih banyak, melalui berbagai cara yang
bisa mereka tempuh
termasuk dengan melakukan tindakan ilegal yang berpotensi melanggar norma
hukum, dalam hal ini tidak ada lagi perasaan bersalah, yang ada dalam benak dan
pikiran mereka hanyalah mendapatkan harta yang banyak. Setelah
mendapatkan harta berlimpah, dan berbagai fasilitas kemudahan yang mereka dimiliki, lantas muncul tuntutan syahwat yang lain, yaitu
mencari dan mendapatkan tahta atau jabatan sebagai sarana yang dapat mengangkat harkat dan martabat mereka dilingkungan
masyarakat.
Untuk mendapatkan jabatan tentu bukan
merupakan perkara yang mudah, karena diperlukan proses
perjalanan panjang serta pengorbanan materi yang tidak sedikit, mengingat setiap peluang jabatan senantiasa
memerlukan proses seleksi, dan hanya mereka yang terpilih yang berhak untuk menempatinya.
Dalam kondisi sekarang untuk mendapatkan jabatan tidak lagi mengutamakan
kemampuan intelektual dan pengalaman, akan tetapi lebih mengarah pada kesiapan
materi pendukung yang besar, sehingga hanya mereka yang memiliki kemampuan
finansial atau harta yang cukup, yang berpeluang mendapatkannya. Dengan
demikian harta dan tahta memiliki hubungan keterkaitan yang
erat, seperti halnya ayam dan telur dimana untuk mendapatkan telur tentu
dibutuhkan ayam, dan untuk mendapatkan ayam harus ada telur untuk menetaskan ayam, demikian pula harta dan tahta memiliki
siklus hubungan yang sama.
Harta
dan tahta (jabatan) merupakan hiasan dunia, sehingga mejadi daya tarik manusia
untuk bisa mendapatkannya, dan bila kita mendapatkan salah satu atau keduanya
maka kebutuhan hidup akan dapat terpenuhi dengan sendirinya, karena dengan
adanya kepimilikan harta maupun tahta tentu akan diperoleh rasa bangga dan
bahagia, mengingat segala hal yang kita perlukan akan mudah didapat. Demikian pula dengan jabatan sebagai
sarana kekuasaan yang dapat memberi pengaruh kapada siapapun
yang ada dalam wilayah kekuasaannya, sehingga bagi
mereka yang menduduki jabatan akan selalu dihormati dan disegani semua orang, dan ini merupakan salah satu
faktor yang membuat seseorang merasa terangkat harga
dirinya dimata orang lain, serta menimbulkan rasa bangga dalam kehidupan
yang mereka jalani. Oleh karenanya harta dan tahta selalu menjadi obyek yang diperebutkan manusia, dimana mereka selalu berupaya
mencari peluang dan kesempatan dengan melakukan
berbagai cara, baik yang sesuai dengan ketentuan norma maupun diluar ketentuan, yang ada dalam hati dan pikiran meraka
hanyalah mendapatkan harta dan tahta sesuai yang mereka inginkan. Namun perlu
dicatat bahwa kehidupan dunia tidaklah abadi dimana semua yang kita miliki
pasti akan berakhir, dan kepemilikan tahta pada dasarnya hanya
sementara karena sewaktu waktu akan digantikan
orang lain, ibarat baju yang kita kenakan pada saatnya pasti harus
dilepas dan diganti dengan yang lain.
Iman
merupakan keyakinan total yang membuahkan ketenangan jiwa dan diwujudkan dalam
kepatuhan beragama, sedangkan takwa adalah
segala upaya untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi
segala laranganNya berdasarkan keimanan dan rasa takut berbalut cinta kepada
Nya. Ciri
orang beriman dan bertakwa adalah selalu
merasa takut untuk berbuat salah, dan berupaya untuk selalu berbuat
baik, rendah hati dan ikhlas terhadap harta dan rezeki yang sedikit. Dengan demikian iman dan takwa
merupakan wujud ketaatan seseorang dalam menjalankan agama, dimana wujud
ketataan tersebut diimplementasikan dalam perilaku dan perbuatan yang baik dalam
kehidupan sehari-hari dilingkungan masyarakat.
Kadar keimanan seseorang pada dasarnya
tidak selalu stabil, akan tetapi bisa turun naik bergantug kondisi dan suasana
hidup yang mempengaruhi, oleh karenanya dalam kondisi menurun, keimanan dan ketakwaan seseorang sangat mudah
dipengaruhi oleh meriahnya kehidupan dunia yang penuh dengan
kesenangan serta
dihiasi dengan gemerlapnya harta sebagai sarana yang dapat mendatangkan segala kebahagiaan, dan tahta sebagai
sarana untuk mendapatkan harta, sehingga dalam kondisi tersebut, harta dan tahta berpotensi merobohkan iman dan takwa seseorang yang masih tertarik dengan segala kenikmatan duniawi. Sebagaimana
kondisi yang dialami negara an saat ini, dimana banyak pejabat yang
terlibat kasus korupsi dengan jumlah kerugian keuangan negara
yang sangat besar, dan hal itu dilakukan oleh mereka yang dikenal memilki
tingkat pengetahuan agama yang cukup tinggi dan tidak diragukan lagi kadar keimanan dan ketakwaan yang ia miliki, sehigga hal ini mejadikan sesatu
yang ironis, dimana harta dapat melunturkan
kadar keimanan dan ketakwaan seseorang.
Itulah harta dan tahta yang kerap menggoyahkan iman dan takwa, karena tidak bisa
dipungkiri bahwa selama seseorang masih tergiur dengan kenikmatan dunia, maka selamanya akan rentan terhadap godaan harta
dan tahta yang sulit dan berat untuk
dihindari.
Untuk
itu marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan yang sudah kita miliki
dengan beribadah secara maksimal dan konsisten, serta senantiasa berupaya menghindari dan menjauhi gemerlapnya
kenikmatan dunia yang hanya
sekejap, dan akan menjerumuskan kita kedalam jurang kenistaan yang
dalam. Perlu dicatat bahwa apabila kita berupaya meningkatkan iman dan takwa
dengan penuh kesungguhan, maka secara tidak langsung akan mengurangi rasa cinta
kapada dunia dan sagala
kesenangannya, karena bagi mereka yang mengutamakan iman dan takwa, akan diperoleh satu kondisi ketenangan yang
mampu menjauhkan dari kesenangan dunia. Ketenangan merupakan sumber dari segala
kenikmatan hidup, meskipun dengan harta yang sedikit, dan untuk bisa meraihnya
tidak perlu anggaran serta meteri yang besar, tapi hanya satu tekad dalam hati untuk
bisa mengalahkan diri sendiri, dengan berupaya meningkatkan ibadah
kepada Tuhan YME, secara rutin dan konsisten serta istikomah, sicaya akan
diperoleh nikmat iman dan takwa sebagai sumber dari segala ketenangan.
Komentar
Posting Komentar