SPREAD GOODNESS, REAP HAPPINESS
MENEBAR KEBAIKAN MENUAI KEBAHAGIAAN
Manusia
terlahir ke dunia dalam kondisi awal yang sama, dimana mereka lahir dalam
keadaan jasmani dan rohani yang bersih bagaikan sehelai kain putih yang belum ternoda, namun seiring perjalanan waktu,
balita yang bersih dari noda itu diberi warna kehidupan melalui bimbingan dan asuhan
orang tua, sehingga seiring dengan tumbuh kembangnya akan tertanam karakter pribadi
yang dipengaruhi oleh pola asuh keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat.
Dengan
demikian baik buruknya perilaku seseorang akan ditentukan oleh kebiasaan hidup dalam
keluarga, pendidikan di sekolah dan lingkungan pergaulan di masayarakat, selain
itu turut berpengaruh pula pembinaan agama yang berperan penting dalam
menanamkan norma kebaikan, serta mencegah perbuatan yang melanggar etika
kehidupan di masyarakat. Kebaikan dan kebahagiaan merupakan dua suasana hati yang
saling berhubungan, dimana kebaikan merupakan perilaku positif yang didasari
ketulusan hati untuk memberi manfaat tanpa mengharapkan imbalan, sedang
kebahagiaan merupakan parasaan hati yang timbul sebagai dampak dari perbuatan
baik yang telah kita lakukan.
Perasaan
empati akan muncul manakala melihat dan merasakan penderitaan yang dialami
orang lain, hal ini merupakan wujud dari kepekaan hati yang responsif terhadap permasalahan
yang menimbulkan keprihatinan, sehingga mendorong kita untuk membantu meringankan
beban penderitaan mereka yang kurang beruntung. Seperti halnya kondisi sekarang
masih banyak ditemui masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan, dimana
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka harus bejuang dengan susah
payah. Dengan melihat dan merasakan kondisi itu seharusnya kita termotifasi untuk menebar kabaikan dengan cara memberikan
sebagian harta yang kita miliki, dan manakala perbuatan baik yang dilakukan
dapat membuat mereka bahagia dan bersyukur, maka kita juga akan merasakan kebahagiaan
sebagaimana yang mereka rasakan.
Perlu disadari bahwa kebahagiaan
terkadang tidak hadir manakala kita mendapatkan materi yang banyak, karena disaat menerima materi sesuai
hak yang kita terima, terkadang muncul perasaan tidak puas, dan hati ini selalu menuntut
materi yang lebih besar lagi, sehingga berapapun materi yang kita terima tidak
akan menimbulkan rasa syukur dan bahagia, akan tetapi sebaliknya muncul perasaan
nafsu yang terus menuntut untuk mendapatkan harta yang lebih banyak. Oleh karenanya kita
harus sadar bahwa harta
dan kekayaan yang kita miliki pada dasarnya merupakan titipan Tuhan YME, yang
harus memberikan nilai manfaat, tidak hanya untuk diri sendiri akan tetapi juga
bagi orang lain. Memberikan
sebagian harta merupakan salah satu upaya membersihkan penghasilan kita yang
mungkin diperoleh dengan cara yang tidak jujur, sehingga dengan memberikan
sebagian harta tersebut secara tidak langsung dapat membersihkan sebagian penghasilan
yang kita miliki.
Dengan demikian suasana bahagia akan
muncul manakala kita dapat berbagi kebaikan dengan memberi kebahagiaan pada
orang lain melalui pemberian materi maupun nasehat atau bahkan dengan sapaan
dan senyuman yang membuat hati mereka senang. Untuk itu kebahagian tidak dapat
dinilai dari banyak sedikitnyan harta yang kita miliki, atau besar kecilnya
pendapatan yang kita raih, tetapi kebahagiaan akan dirasakan manakala kita
mampu menebar kabaikan kepada semua orang, tentunya disesuaikan dengan kemampuan
yang kita miliki. Perlu kita sadari bahwa kebaikan pada dasarnya merupakan
perwujudan dari tindakan dan perbuatan, sedang kebahagiaan merupakan perasaan
hati sebagai dampak dari kebaikan yang kita lakukan.
Untuk
itu marilah kita perbanyak berbuat baik pada sesama, karena disitu akan kita temukan kebahagiaan dan ketenangan, selain itu dengan berbuat baik pada
sesama akan membuat hidup kita jadi lebih bermakna dan bermafaat bagi orang
lain.
Komentar
Posting Komentar