WEALTH AND THRONE ERADICATE FAITH AND PIETY

HARTA DAN TAHTA MELUNTURKAN IMAN DAN TAKWA


            Harta merupakan sarana kebutuhan hidup yang dapat memberi ketenangan dan kebahagiaan manusia disepanjang hidupnya, namun terkadang juga dapat menjadi sumber permusuhan dan pertikaian antar manusia, antar kelompok bahkan antar negara. Untuk itu manusia tidak bisa lepas dari harta sebagai kebutuhan pokok yang mengiringi disetiap aktifitas kehidupannya. Demikian pula tahta atau jabatan merupakan sarana yang dapat meningkatkan harga diri, kehomatan dan kewibawaan seseorang, sehingga setiap ucapan dan tindakannya senantiasa menjadi perhatian dan panutan orang lain. Dengan menyandang tahta atau jabatan akan dapat menentukan segala kebijakan yang harus dipatuhi oleh bawahan atau masyarakat yang dipimpinnya. Selain itu jabatan adalah hiasan dunia yang senantiasa menjadi daya tarik manusia untuk mendapatkannya, oleh karenanya orang akan berlomba dengan segala cara agar dapat meraihnya, bahkan dengan mengorbankan harta sekalipun, mengingat jabatan merupakan sarana yang dapat meningkatkan status sosial di masyarakat.

Antara harta dan tahta terdapat hubungan yang sangat erat dan saling menguntungkan, seperti ayam dan telor yang keduanya sulit ditentukan mana yang lebih dulu lahir atau keluar. Demikian juga harta dan tahta, dimana orang dapat memperoleh harta manakala dia memilki tahta, dan sebaliknya untuk mendapatkan tahta tentu diperlukan harta sebagai sarana atau modal untuk dapat meraihnya. Kondisi ini merupakan kelaziman yang berkembang dimasyarakat, bahwa tidak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa pengorbanan, sehingga setiap perhelatan pemilihan pemimpin selalu identik dengan pesta yang banyak mengeluarkan finansial sebagai jaminan untuk menentukan siapa calon yang akan terpilih, dan mereka yang banyak mengorbankan hartanya yang biasanya menjadi pemenang dalam konstelasi pemilihan. Sehingga sebagai jaminan berikutnya adalah jabatan yang ia sandang, akan digunakan sebagai sarana untuk mencari peluang dan  kesempatan, guna mendapatkan keuntungan dari setiap kebijakan dan kewenagan  yang dikeluarkan.

            Iman dan takwa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepda Allah SWT, yang dilakukan melalui ibadah dengan menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala larangan Nya, untuk itu ia dapat  membentuk sifat dan pribadi manusia menjadi jujur dan amanah, serta senantaisa berbuat baik kepada sesama. Dengan bekal iman dan takwa seorang pejabat idealnya memilki sifat dan karakter yang dapat dijadikan panutan bagi masyarakat yang dipimpinnya, terlebih lagi mereka telah diberi amanah untuk memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat, sehingga segala kebijakan dan keputusan yang diambil harus dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam kenyataanya iman dan takwa kerap menghadapi ujian dan tantangan, terutama bagi mereka yang menduduki jabatan publik yang rentan terhadap pemberian ucapan terima kasih, kondisi ini sering menggoyahkan iman seorang pejabat, dimana dengan dalih ucapan terima kasih atas segala kebijakan yang dikeluarkan, mereka mendapat imbalan finansial yang kerap dianggap sebagai hal yang biasa, karena pemberian tersebut didasarkan atas keikhlasan dari pihak yang telah mendapat keuntungan, namun dari aspek hukum perbuatan itu ilegal karena sudah masuk  katagori gratifikasi, terlebih lagi nilai materi yang diberikan  tergolong sangat besar, dan bernilai fantastis serta  jauh dari kesan alakadarnya atau seikhlasnya. Harta dan tahta kerap membuat kita terlena dan terjebak dalam kenikmatan sarana dan fasilitas yang sangat menggiurkan, sehingga banyak melunturkan iman dan takwa setiap pejabat pemangku kepentingan, dan  itu merupakan pilihan yang sulit untuk dihindari. Disisi lain adanya karakter manusia yang menempatkan harta dan tahta sebagai tujuan utama dalam hidup, sehingga bila landasan iman dan takwa mereka lemah, tentu akan mudah terjerumus dalam lingkaran hidup yang mengutamakan finansial sebagai sarana medapatkan keuntungan. Itulah iman dan takwa yang banyak diuji dengan harta, sehingga kerap menimbulkan konflik  batin dan hati setiap pejabat yang menduduki jabatan  strategis.

            Kultur dan budaya kita masih terpaku dengan pola lama yang sulit berubah, seakan sudah turun temurun dari generasi ke generasi, sehingga sikap dan karakter jujur serta teguh dalam iman masih belum tertanam dengan baik. Namun tidak semua pejabat memiliki karakter yang sama dalam memandang harta dan tahta dalam persperktif mencari keuntungan, masih ada diantaranya yang memegang teguh iman dan takwa dalam menghadapi godaan yang datang menghampirinya, dan mereka tetap tegas dan lurus terhadap komitmen yang telah ditegakan, serta tidak terpengaruh oleh manisnya materi yang  selalu datang menggoda setiap saat. Namun sikap seperti itu masih jarang dimiliki pejabat di negeri ini, karena untuk memiliki sikap seperti itu diperlukan komitmen dan tekad yang kuat, serta dilandasi dengan iman dan takwa yang kokoh mengakar dalam hati.

Untuk itu marilah kita amalkan iman dan takwa sebagai sekat yang mampu membentengi diri dari pebuatan  tidak jujur, termasuk diantaranya menerima materi sebagai bentuk ucapan terima kasih atas balas jasa yang telah kita berikan. Perlu disadari bahwa harta yang diperoleh dari perbuatan ilegal tidak akan membawa barokah, bahkan sebaliknya akan menimbulkan penyakit lahir maupun batin yang menimpa diri dan keluarga kita. Satu pendapatan yang bernilai halal dan legal bagi pejabat hanyalah gaji dan tunjangan yang sudah ditentukan nilainya, dan itulah materi yang akan membawa kebarokahan dalam kehidupan keluarga, walaupun bernilai cukup dan tidak berlebih, namun pendapatan tersebut akan membawa ketenangan batin dan kedamaian dalam hidup, serta akan menjaga iman dan takwa kita dari perbuatan yang melanggar hukum dan norma agama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HEART & MIND EXERCISE

TIME IN HUMAN LIFE

PREDICTIONS OF OBSTACLES TO PRAYER FOR VICTORY