PHILOSOPHY OF MOUNTAIN CLIMBING IN LIFE
FILOSOFI MENDAKI GUNUNG DALAM KEHIDUPAN
Mendaki gunung merupakan salah satu aktifitas hoby dan
kesenangan bagi sebagian orang, selain itu kegiatan ini digunakan sebagai
sarana rekreasi untuk menghilangkan kepenatan akibat aktiftas kehidupan
sehari-hari, sehingga dengan melakukan kegiatan tersebut badan akan terasa segar dan pikiranpun akan lebih cerah dan fresh
kembali, disisi lain ada yang melakukam kegiatan ini sebagai salah satu target
pencapaian rekor dengan mendaki beberapa gunung tertinggi baik di dalam maupun luar negeri. Demikian pula dalam hidup manusia
yang penuh dinamika, pada dasarnya ada kesamaan dengan prosesi mendaki gunung yang
digambarkan melalui filosofi hidup. Kata filosofi itu sendiri dapat
diartikan sebagai suatu kayakinan, nilai dan prinsip yang menjadi pedoman dalam
memahami arti, tujuan dan cara mejalani kehidupan, hal ini meliputi pandangan
tentang apa yang baik dan buruk, arti kesuksesan dan bagaimana seharusnya
bersosialisasi dengan orang lain. Adanya filosofi kehidupan yang dapat
digambarkan melalui kegiatan mendaki gunung, menunjukan bawa tahapan hidup
sebagian manusia ada kemiripan sebagaimana prosesi pendakian yang harus dimulai
dari bawah selanjutnya setapak demi
setapak naik, yang pada akhirnya dapat mencapai puncak. Begitupan dengan proses
kehidupan akan terus berjalan waktu demi waktu, yang pada akhirnya sampai pada tujuan
hidup yang dicita-citakan, untuk itu filosofi hidup dapat digambarkan sebagai jalan,
yang mengarahkan manusia meraih keberhasilan sesauai dengan cita-cita,
angan-angan dan harapan yang telah telah ditentukan.
Dalam melakukan aktifiatas mendaki gunung diperlukan
kesiapan mental dan fisik serta perencanaan yang matang, mengingat kegiatan ini
disamping sebagai hoby dan kesenangan juga memiliki resiko cukup tinggi pada
terjadinya musibah, hal tersebut terjadi sebagai akibat kondisi medan yang
sulit dilalui sehingga diperlukan kombinasi kemampuan fisik dan mental yang
baik. Terlebih bagi pendaki pemula, mutlak diperlukan pemdamping yang
berpengalaman sebagai pemandu guna menghindari hal yang tidak diinginkan
seperti tersesat dan hilang ditengah pendakian. Saat melakukan prosesi pendakian harus fokus melihat jalur
yang dilalaui, dengan menikmati keindahan pemadangan alam sekitar sekitar, sehingga
dapat mengurangi rasa jenuh dan lelah.
Ada hal harus dihindari saat melakukan pendakian, yaitu
mencari jalur baru dengan maksud memotong jalan pendekat agar lebih cepat
mencapai puncak, karena tindakan tersebut akan beresiko tersesat dan gagalnya target
pendakian. Khusus bagi pemula disarankan tidak terlalu banyak melihat puncak
gunung yang tinggi menjulang, mengingat bila hal ini sering dilakukan akan berpengaruh
pada menurunnya mental, semangat dan motifasi akibat terlalu banyak memikirkan jarak tempuh yang
masih jauh dengan jalan yang menanjak, sehingga adanya pikiran tersebut akan berpengaruh
pada penurunan fisik yang drastis, serta berakibat gagalnya aktifitas pendakian.
Salah satu cara untuk menghidanri turunya mental bagi pendaki adalah
mengihindari bayang-bayang beratnya
medan yang akan dilalaui, dan tetap fokus melihat jalur yang dilewati dengan sabar, dan terus
berjalan setapak demi setapak, sesuai batas kemampuan fisik yang dimiliki.
Mendaki gunung merupakan perjalanan yang dilaksanakan
secara bertahap, dan tidak dapat dilakukan terus menerus tanpa jeda istirahat, dengan
demikian ada beberapa etape yang harus dilewati, dimana setiap etape pendakian
ada waktu istirahat dengan memasang bivak atau tenda guna memulihkan kondisi
fisik yang sudah terkuras. Melalui aktifitas istirahat serta makan dan minum
secukupnya, diharapkan fisik yang sudah lelah akan pulih kembali, demikian
seterusnya etape demi etape dilalui yang pada akhirnya akan mencapai puncak
tertinggi sebagaimana yang sudah diharapkan dan direncanakan.
Demikian pula perjalanan hidup
manusia ada kemiripan dengan tahapan mendaki gunung, dimana dalam menjalani
hidup diperlukan proses panjang yang harus dilalui secara bertahap dengan
berbagai aktifitas kehidupan yang terkadang melelahkan dan semuanya harus
dilalui dengan penuh kesabaran dan fokus pada apa yang sedang dikerjakan. Sebagaimana
pada saat mendaki gunung kita harus berjalan sesuai kekuatan fisik sendiri dan
tidak perlu mengikuti gerakan orang lain yang lebih cepat, karena memiliki
kemampuan fisik lebih kuat dari kita. Demikian pula dalam hidup harus mampu mengukur
kemampuan sendiri, dan tidak perlu menyamakan dengan kemampuan orang lain
karena jalan hidup manusia sudah punya jalur masing-masing, demikian
pula rejaki, jodoh dan kamatian sudah diatur dan ditentukan oleh Sang Maha
Pencipta.
Saat naik gunung terkadang selalu dibayangi tentang
beratnya medan yang akan dilalui sehingga dapat menurunkan mental kita, demikian
pula dalam hidup senantiasa dihantui rasa kehawatiran dan takut melihat masa depan, hal itu wajar sebagai manusia yang memiliki rasa
tanggung jawab terhadap diri dan keluarga. Masa depan adalah misteri yang belum tentu terjadi sesuai angan
dan harapan kita, bahkan mungkin sebaliknya bisa bertolak belakang dengan angan
dan harapan yang sudah terbayang dalam pikiran. Manusia pada dasarnya hanya
bisa merencakan dan mengupayakan dengan berbagai daya dan tenaga, tetapi Tuhan
yang akan menentukan segalanya, karena apa yang terbaik bagi manusia belum
tentu baik menurut Tuhan, dan apa yang baik menurut Tuhan pasti baik bagi
manusia. Untuk itu dalam menjalani hidup jangan terlalu banyak berangan-angan
dan berpikir akan masa depan, tapi berpikirlah secara nyata pada kehidupan hari
ini dan esok. Rencanakan dan tentukan kehidupan yang nyata didepan kita dan
nikmati hidup sesauai yang kita mampu kerjakan. Jangan terlalu banyak melihat
keatas tapi perbanyak melihat kebawah, karena masih banyak orang yang hidup
lebih sengsara dari pada yang kita rasakan saat ini.
Hindari melihat
pencapaian orang lain yang lebih baik dari apa yang mampu kita capai, karena
hanya akan menimbulkan rasa iri dan sakit hati yang banyak menyita energi, kita harus sadar bahwa Tuhan telah
menentukan jalan kehidupan masing-masing hambanya, dimana antara satu dengan yang lain pasti memiliki jalan hidup yang berbeda, meskipun
pada saat awal kita dilahirkan dari rahim yang sama, dan tahap pendidikan yang
sama namun selepas itu, masing-masing akan memiliki jalan hidup berbeda, ada
yang cepat melesat mencapai karier dan
kedudukan tinggi, disisi lain ada yang sedang-sedang saja dan ada pula yang
jauh tertinggal dibawah, hal itu merupakan suatu yang wajar dalam hidup. Kita
harus sadar bahwa nasib manusia tidaklah sama, akan tetapi sudah ada yang
menentukan yaitu Tuahan Yanga Maha Esa. Pada saat mendaki gunung dilarang
mencari jalan pintas karena bisa mengakibatkan tersesat, demikiam pula dalam menjalani
kehidupan jangan mencari jalan pintas, karena tindakan tersebut akan beresiko
pada timbulnya pelanggaran, untuk itu
hiduplah dengan wajar sesuai dengan batas kemampuan yang bisa kita
lakukan, sehingga kehidupan yang kita lalui aka terasa damai dan tenang.
Untuk bisa menikmati hidup tentram
dan damai perlu dilandasi dengan sikap yang jujur, ikhlas dan sabar serta
menghindari perilaku yang dapat menyakiti hati orang lain, terlebih lagi
mengambil dan menguasai hak orang lain. Dalam hidup ada saat dan waktu bagi
kita, dimana bila saat dan waktunya belum tiba, maka kita tidak akan bisa mencapainya
meskipun telah diupayakan dengan berbagai macam cara. Untuk itu hiduplah tahap demi
tahap dan nikmati setiap tahap kehidupan yang tengah kita rasakan, karena hidup
itu indah dan hanya kita yang bisa merasakan indahnya hidup. Dengan
pencapaian hidup yang dilakukan seuai dengan tahapan maka pada saat kita akan
mencapi puncak kebahagiaan sesuai dengan rencana yang telah kita tentukan, dan
jangan lupa banyak bersyukur atas keberhasilan yang kita capai karena itu semua hanyalah anugerah
dari Yang Kuasa.

Komentar
Posting Komentar